MODEL-MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI
MODEL-MODEL
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI
Disusun
Oleh :
Farid Ramadhan
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah
SISTEM INFORMASI
Pada Jurusan SISTEM
INFORMASI
Dosen Pembimbing
Permadi Surya, MMSi
FAKULTAS ILMU
KOMPUTER
UNIVERSITAS BOROBUR
KATA PENGANTAR
Puji syukur Kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan
karuniahnya kepada saya, dimana dalam pembuatan makalah saya yang berjudul “
Sitem Informasi Manajemen’’ Dalam pembuatan makalah saya ini banyak mendapat
pelajaran serta kesulitantetepi berkat bimbingan, pengarahan, dan bantuan dari
berbagai pihak, ahirnya makalah ini dapat diselesikan tepat waktu,oleh karena
itu maka dari itu saya ucapakan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dosen pembina mata kuliah Sistem
Informasi
2. Dan pihak-pihak yang telah member
kontribusi dalam proses penyusunan.
saya menyadari sekali,dalam penyususnan makalah ini masih
banyak kekurangan baik dari tata bahasa ataupun masalah tenis penulisan dan
jauh dari kata sempurna itu semua semata-mata atas keterbatasan saya dalam
proses belajar, oleh karena itu saya harap kritik dan saran guna memperbaiki
kelemahan tulisan saya.
Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini
kiranya makalah ini dapat bermanfaat baik untuk pribadi serta pihak lain yang
terinspirasi dari makalah Sistem Informasi Manajemen.
Jakarta,
14 May 2017
Farid Ramadhan
Daftar
Isi
Kata
Pengantar ………………………………………………..
Daftar
Isi …………………………………………………
BAB
I PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang……………………………………….
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Model-Model Pengembangan Sistem
Informasi..
2.2
Waterfall Model..................................................
2.3 Model SpiraL......................................................
2.3 Model SpiraL......................................................
2.4 RAD ( Rapid Application
Development ) Model..
2.5
Model V.................................................................
2.6 Prototyping Model...............................................
2.7 Simple Interaction Desain Model........................
2.8 Star Lifecycle Model............................................
BAB
II
A.
Penutup…….... …………………………………………
B.
Saran …………………………………………………...
C.
Daftar Pustaka ………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam suatu instansi pemerintah dan non pemerintah di
Indonesia ysng terdiri dari berbagai macam atau model pengembangan system
informasin disetiap organisasi masih belum memenuhi tahap – tahap Pengembangan
system informasi . dalam pengembangan system masih banyak terdapat tumpang
tindih disetiap para manajemen, disebabkan karena kekuangan informasi dari
atasan hingga bawahannya, sehingga apa yang direncanakan dalam organisasi
tersebut tidak mudah tercapai secara efektif dan efesiensi. informasi sangat
dibutuhkan dalam setiap organisasi untuk mendukung berjalang suatu perencanaan
sehingga saling bertukar informasi antar atasan,mengenah dan bawahan. System
adalah suatu organ yang saling tergantung antar satu dengan yang lain dan
saling mempengaruhi. Bila suatu system mengalami suatu kekurangan akan
mempengaruhi system yang lainnya dan tujuan yang diharapkan kemungkinan besar
tidak tercapai.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 MODEL PENGEMBANGAN SITEM INFORMASI MANAJEMEN
2.2 Waterfall Model
Pendekatan suatu pengembangan sistem yang sederhana, lebih dikenal sebagai model air terjun (waterfall model). Model air terjun ini mendeskripsikan alur proses pengembangan sistem informasi seperti tampak pada Gambar di bawah ini :
Pendekatan suatu pengembangan sistem yang sederhana, lebih dikenal sebagai model air terjun (waterfall model). Model air terjun ini mendeskripsikan alur proses pengembangan sistem informasi seperti tampak pada Gambar di bawah ini :
Metode Waterfall
Pekerjaan pengembangan sistem dengan model air terjun
dimulai dengan pembuatan spesifikasi kebutuhan suatu sistem. Pekerjaan ini
biasanya dilakukan oleh orang yang memesan sistem atau pengembang yang bekerja
sama dengan pemesannya. Setelah spesifikasi kebutuhan ini selesai, lantas
dilakukanlah suatu analisis dan deskripsi logika sistem. Atau, analisis dan
deskripsi logika sistem dibuat secara bersama-sama dengan spesifikasi
kebutuhan.
Rancangan sistem kemudian diselesaikan dan diikuti dengan
implementasi modul yang lebih kecil. Modul-modul ini pertama-tama diuji secara
sendiri-sendiri dan kemudian secara hersama-sama. Ketika pengujian integrasi
terakhir telah diselesaikan, keseluruhan sistem dapat diserahkan ke pemakai
serta dimulailah tahap pemeliharaan.
Model air terjun ini memberi penekanan bahwa seseorang harus
menyelesaikan suatu tahap sebelum masuk ke tahap berikutnya. Model air terjun
ini telah memberikan pengaruh besar pada metode rekayasa
perangkat lunak. Model ini sebenarnya tidak pernah
dimaksudkan untuk dilaksanakan secara kaku pada saat pertama kali
diperkenalkan. Akan tetapi, belakangan disadari bahwa model air terjun ini
harus direvisi agar benar-benar menggambarkan siklus pengembangan sistem.
Problem utama model air terjun ini dalam kebanyakan kasus
adalah pada tahap pemeliharaan. Dalam kenyataannya, tahap pemeliharaan
mengandung juga spesifikasi kebutuhan, analisis, dan perancangan baru
berikutnya Karena itu, berbagai model baru dikembangkan untuk menggambarkan
kenyataan tersebut Diantara berbagai model yang ada, model yang paling populer
adalah model spiral. Model spiral dapat menggambarkan bagaimana suatu versi
dapat dikembangkan secara bertingkat (incremental), seperti tampak pada Gambar
di bawah ini :
2.3 Model Spiral
Di samping itu, R. Eko Indrajit di dalam bukunya “Manajemen
Sistem Informasi dan Teknologi Informasi”, menyatakan bahwa pengembangan sistem
informasi dapat dikategorikan dalam tiga kelompok besar. Kelompok pertama
adalah proyek yang bersifat pembangunan jaringan infrastruktur teknologi
informasi (mulai dari pengadaan dan instalasi komputer sampai dengan
perencanaan dan pengembangan infrastruktur jaringan LAN dan WAN).
Kelompok kedua adalah implementasi dari paket program
aplikasi yang dibeli di pasaran dan diterapkan di perusahaan, mulai dari
perangkat lunak kecil seperti produk-produk ritel Microsoft sampai dengan
aplikasi terintegrasi yang berbasis teknologi tinggi.
Kelompok ketiga adalah perencanaan dan pengembangan aplikasi
yang dibuat sendiri secara khusus (customized software), baik oleh internal
organisasi maupun kerja sama dengan pihak luar, seperti konsultan dan software
house.
2.4 RAD ( Rapid Application Development ) Model
Rapid Application Development (RAD)
atau Rapid Prototyping adalah model proses
pembangunan perangkat lunak yang tergolong dalam teknik incremental
(bertingkat). RAD menekankan pada siklus pembangunan pendek, singkat, dan
cepat. Waktu yang singkat adalah batasan yang penting untuk model ini.
Rapid application
development menggunakan metode interatif (berulang) dalam mengembangkan sistem dimana working model (model
bekerja) sistem dikonstruksikan di awal tahap pengembangan dengan tujuan
menetapkan kebutuhan (requirement) user dan selanjutnya
disingkirkan. Working model digunakan kadang-kadang saja sebagai basis
desain dan implementasi sistem final.

Tahap –
Tahap Rekayasa Software Dalam RAD Model
Model RAD
menekankan pada tahap-tahap berikut :
1. Business
modeling
Pada tahap ini,
aliran informasi (information flow) pada fungsi-fungsi bisnis dimodelkan untuk
mengetahui informasi apa yang mengendalikan proses bisnis, informasi apa yang
hasilkan, siapa yang membuat informasi itu, kemana saja informasi mengalir, dan
siapa yang mengolahnya.
2. Data modeling
Aliran informasi
yang didefinisikan dari business modeling, disaring lagi agar bisa dijadikan
bagian-bagian dari objek data yang dibutuhkan untuk mendukung bisnis
tersebut. Karakteristik
(atribut) setiap objek ditentukan beserta relasi antar objeknya.
3. Process modelling
Objek-objek
data yang didefinisikan sebelumnya diubah agar bisa menghasilkan aliran
informasi untuk diimplementasikan menjadi fungsi bisnis. Pengolahan deskripsi
dibuat untuk menambah, merubah, menghapus, atau mengambil kembali objek data.
4. Application generation
RAD bekerja
dengan menggunakan fourth generation techniques (4GT).
Sehingga pada tahap ini sangat jarang digunakan pemrograman konvensional
menggunakan bahasa pemrograman generasi ketiga (third generation programming
languages), tetapi lebih ditekankan pada reuse komponen-komponen (jika ada)
atau membuat komponen baru (jika perlu). Dalam semua kasus, alat bantu untuk otomatisasi
digunakan untuk memfasilitasi pembuatan perangkat lunak
5. Testing
and turnover
Karena menekankan
pada penggunaan kembali komponen yang telah ada (reuse), sebagian
komponen-komponen tersebut sudah diuji sebelumnya. Sehingga mengurangi waktu
testing secara keseluruhan. Kecuali untuk komponen-komponen baru.
Kelebihan RAD
Model
RAD memang lebih
cepat dari Waterfall. Jika kebutuhan dan batasan proyek sudah diketahui
dengan baik. Juga jika proyek memungkinkan untuk dimodularisasi.
Kekurangan RAD
Model
- Tidak semua proyek bisa dipecah
(dimodularisasi), sehingga belum tentu RAD dipakai pada semua proyek.
- Karena proyek dipecah menjadi
beberapa bagian, maka dibutuhkan banyak orang untuk membentuk suatu tim
yang mengerjakan tiap bagian tersebut.
- Membutuhkan komitmen antara pengemang
dengan pelanggan.
- Model RAD memerlukan sumber daya yang
cukup besar, terutama untuk proyek dengan skala besar.
- Resiko teknis yang tinggi kurang
cocok untuk model ini.
- Sistem yang tidak bisa dimodularisasi
tidak cocok untuk model ini.
- Karena dibuat dengan reuse
komponen-komponen yang sudah ada, fasilitas-fasilitas pada tiap komponen
belum tentu digunakan seluruhnya oleh program yang me-reuse-nya sehingga
kualitas program.
2.5 Model V
Model ini merupakan perluasan dari model waterfall. Disebut
sebagai perluasan karena tahap-tahapnya mirip dengan yang terdapat dalam model
waterfall. Jika dalam model waterfall proses dijalankan secara linear, maka
dalam model V proses dilakukan bercabang. Dalam model V ini digambarkan
hubungan antara tahap pengembangan software dengan tahap pengujiannya.

Berikut penjelasan masing-masing tahap beserta tahap
pengujiannya:
1. Requirement Analysis &
Acceptance Testing
Tahap Requirement Analysis sama seperti yang terdapat dalam
model waterfall. Keluaran dari tahap ini adalah dokumentasi kebutuhan pengguna.
Acceptance Testing merupakan tahap yang akan mengkaji apakah dokumentasi yang
dihasilkan tersebut dapat diterima oleh para pengguna atau tidak.
2. System Design & System
Testing
Dalam tahap ini analis sistem mulai merancang sistem dengan
mengacu pada dokumentasi kebutuhan pengguna yang sudah dibuat pada tahap
sebelumnya. Keluaran dari tahap ini adalah spesifikasi software yang meliputi
organisasi sistem secara umum, struktur data, dan yang lain. Selain itu tahap
ini juga menghasilkan contoh tampilan window dan juga dokumentasi teknik yang
lain seperti Entity Diagram dan Data Dictionary.
3. Architecture Design &
Integration Testing
Sering juga disebut High Level Design. Dasar dari pemilihan
arsitektur yang akan digunakan berdasar kepada beberapa hal seperti: pemakaian
kembali tiap modul, ketergantungan tabel dalam basis data, hubungan antar
interface, detail teknologi yang dipakai.
4. Module Design & Unit
Testing
Sering juga disebut sebagai Low Level Design. Perancangan
dipecah menjadi modul-modul yang lebih kecil. Setiap modul tersebut diberi
penjelasan yang cukup untuk memudahkan programmer melakukan coding. Tahap ini
menghasilkan spesifikasi program seperti: fungsi dan logika tiap modul, pesan
kesalahan, proses input-output untuk tiap modul, dan lain-lain.
5. Coding
Dalam tahap ini dilakukan pemrograman terhadap setiap modul
yang sudah dibentuk.
- V
Model memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan-kelebihan tersebut secara
garis besar dapat dijelaskan seperti berikut:
- V
Model sangat fleksibel. V Model mendukung project tailoring dan penambahan
dan pengurangan method dan tool secara dinamik. Akibatnya sangat mudah
untuk melakukan tailoring pada V Model agar sesuai dengan suatu proyek
tertentu dan sangat mudah untuk menambahkan method dan tool baru atau
menghilangkan method dan tool yang dianggap sudah obsolete.
- V
Model dikembangkan dan di-maintain oleh publik. User dari V Model
berpartisipasi dalam change control board yang memproses semua change
request terhadap V Model.
V Model juga memiliki beberapa kekurangan.
Kekurangan-kekurangan tersebut yaitu:
- V
Model adalah model yang project oriented sehingga hanya bisa digunakan
sekali dalam suatu proyek.
- V
Model terlalu fleksibel dalam arti ada beberapa activity dalam V Model
yang digambarkan terlalu abstrak sehingga tidak bisa diketahui dengan
jelas apa yang termasuk dalam activity tersebut dan apa yang tidak.
2.6 Prototyping Model

Paradigma dari metode prototyping adalah sistem informasi
yang menggambarkan hal-hal penting dari sistem informasi yang akan datang.
Prototipe sistem informasi bukanlah merupakan sesuatu yang lengkap, tetapi
sesuatu yang harus dimodifikasi kembali, dikembangkan, ditambahkan atau
digabungkan dengan sistem informasi yang lain bila perlu.
Sebuah prototype adalah bagian dari produk yang mengekspresikan
logika maupun fisik antarmuka ekternal yang ditampilkan. Komponen potensial
menggunakan prototype dan menyediakan masukan tim pengembangan sebelum sebelum
pengembangan skala besar dimulai. Melihat dan mempercayai menjadi hal yang
diharapkan untuk dicapai dalam prototype. Dengan menggunakan pendekatan ini,
konsumen dan tim pengembangan dapat mengklarifikasi kebutuhan pengembangan
software dan intrepetasi mereka.
Tahap – Tahap Rekayasa Software Dalam Prototype Model
1. Pengumpulan kebutuhan
Developer dan klien bertemu untuk menentukan tujuan umum,
kebutuhan yang diketahui dan gambaran bagian-bagian yang akan dibutuhkan
berikutnya. Detail kebutuhan mungkin tidak dibicarakan disini, pada awal
pengumpulan kebutuhan.
2. Perancangan Cepat
Perancangan dilakukan cepat dan rancangan mewakili semua
aspek software yang diketahui, dan rancangan ini menjadi dasar pembuatan
prototype.
3. Bangun Prototype
Dalam tahap ini, membangun sebuah versi prototype yang
dirancang kembali dimana masalah-masalah tersebut diselesaikan.
4. Evaluasi prototype
Pada tahap ini, klien mengevaluasi prototype yang dibuat dan
digunakan untuk memperjelas kebutuhan software.
5. Perbaikan Prototype
Tahap ini Software yang sudah jadi dijalankan dilakukan perbaikan.
Perbaikan termasuk dalam memperbaiki kesalahan/kerusakan yang tidak
ditemukan pada langkah sebelumnya.
Kelebihan Prototype Model adalah :
- End
user dapat berpartisipasi aktif.
- Penentuan
kebutuhan lebih mudah diwujudkan.
- Mempersingkat
waktu pengembangan software.
Kekurangan Prototype Model adalah :
- Proses
analisis dan perancangan terlalu singkat.
- Mengesampingkan
alternatif pemecahan masalah.
- Bisanya
kurang fleksibel dalam menghadapi perubahan.
- Prototype
yang dihasilkan tidak selamanya mudah dirubah.
- Prototype
terlalu cepat selesai.
2.7 Simple Interaction Desain Model

Pada model rancangan interaksi sederhana ini input atau
masukan hanya memiliki satu titik. yang mana masukan tersebut diidentifikasikan
apakah sesuai dengan kebutuhan, lalu didesain sesuai dengan persyaratan yang
telah ditetapkan. Setelah diDesain rancangan tersebut dibangun dan harus
interaktif. Setelah itu barulah rancangan tersebut dievaluasi.
Evaluasi dapat dilakukan dimana saja, rancangan yang telah
di evakuasi dapat kambali didesain ulang atau apakah rancangan tersebut tidak
sesuai dengan kebutuhan user, maka alur tersebut akan terus berputar hingga
pada tahap evaluasi tidak lagi terjadi kesalahan, baik dalam penetapan
kebutuhan user maupun pendesainannya, sehingga pada tahap evaluasi terciptalah
sebuah hasil akhir yang valid.
2.8 Star Lifecycle Model

Dalam Siklus permodelan ini pengujian dilakukan terus
menerus, tidak harus dikahir. Misalnya dimulai dari menentukan kosep desain
(conceptual design) dalam proses ini akan langsung terjadi evaluasi untuk
langsung ternilai apakah sudah sesuai dengan kebutuhan user, bila belum maka
akan terus berulang di evaluasi hingga benar-benar pas, selanjutnya apabila
sudah pas, maka dari tahap evaluasi yang pertama akan lanjut ke proses yg
selanjutnya yakni requirements/specification yakni memverifikasikan persyaratan
rancangan tersebut, dan pada tahap itu juga langsung terjadi pengevaluasian
seperti tahap pertama, dan selanjutnya akan tetap sama terjadi pada
tahapan-tahapan selanjutnya yakni task analysis/fungsion analysis,
pengimplementasian, prototyping hingga pada akhirnya terciptalah sebuah
aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan user.
A. PENUTUP
Dalam pembahasan
makalah saya ini yang berjudul “ Model-model pengembangan Sistem Informasi”,
dimana dalam pembahasan makalah saya ini, baik dalam bentuk penulisan maupun
dalam bentuk pengajian masih belum sempurna. Oleh karena itu segala
keterbatasan saya dalam pembuatan makalah saya ini segala kritik dan masukan,agar
bermanfaat buat saya kedepannya.
Dalam hal ini saya juga sangat
berterima kasih Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala Berkah dan Rahmatnya
Kepada saya sejak saya mulaikan makalah saya ini hingga selesai, saya juga
tidak lupa berterimakasih yang sebesar - besarnya kepada bapak yang mengasuh
bidang study “ Pengantar Sistem Informasi’’ dimana atas segala arahan dan
bimbingan yang telah bapak berikan dalam bentuk makalah ini, lebih – lebih kami
juga berterimakasih kepada teman – teman atas segala dukungan dan kerja sama
yang baik dalam penyelesaian makalah ini.
B. DAFTAR PUSTAKA
Iman sunandar.2013.model-model pengembangan
system informasi. http://imansunandar14.blogspot.co.id/2013/05/model-model-pengembangan-sistem.html.


Comments
Post a Comment